Friday, September 30, 2011

Reforest PANIN

Reforest Indonesia merupakan wujud kepedulian PaninBank terhadap komunitas dan lingkungan sekitar. Untuk itu, PaninBank berkoordinasi dengan pemerintah untuk menggalakkan penghijauan secara nasional

Sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan Reforest Indonesia yang diresmikan Presiden RI, PaninBank mengajak masyarakat di seluruh Indonesia untuk melakukan penanaman pohon trembesi.

Dengan menanam pohon trembesi, Anda sudah membantu mengurangi emisi gas CO2 dalam udara yang menyebabkan pulusi. Dengan menjadi Green Partner Panin, Anda sudah turut serta dalam menyelamatkan bumi. Untuk menjadi Green Partner PaninBank , Anda tidak perlu bersusah payah. PaninBank akan menghubungi Anda dan memberikan Reforest Set berupa bibit/pohon trembesi, poly bag dan buku panduan secara gratis. Mari kita bersama-sama menyelamatkan bumi dari emisi gas CO2.

Sunday, September 4, 2011

Limbah Cilengkrang Dinilai Mencemari Penduduk Sekitar


JALAKSANA – Wisata alam Lembah Cilengkrang tampaknya mulai mengusik warga Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana. Mereka memprotes keras Badan Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) sebagai pengelola, karena limbah wisata alam yang mengandalkan potensi curug dan air panas tersebut dirasakan telah mencemari penduduk.
“Akibat buruknya memang belum terasa sekali, tapi warga sudah sangat terusik dengan limbah itu (Lembah Cilengkrang, red),” ungkap Kepala Desa Sukamukti, Nana Mulyana kepada Radar di kantornya, Selasa (18/1).
Ia memastikan, setiap wisatawan Lembah Cilengkrang meninggalkan sampah di lokasi. Mata air Curug Cilengkrang yang bersih menjadi kotor, karena di lembah yang berada di atas Desa Sukamukti itu para wisatawan memanfaatkan air panas untuk berendam dan lain-lain.
Berbagai fasilitas pun dibangun BTNGC untuk wisatawan. Seperti bak-bak air permanen, toilet, warung-warung dan lain-lain. “Bisa dibayangkan, dari semua fasilitas itu, air menjadi tercemar. Apalagi kalau ada wisatawan berpenyakit, lalu berendam di air panas itu. Otomatis air mengalir ke Desa Sukamuti menjadi ikut tercemar.
”Yang lebih dikhawatirkan, jika ini dibiarkan, kedepan warga kami akan menjadi korban. Kita kan dituntut berpikir ke depan. Orang BTNGC saja selalu bilang, satu pohon pinus kedepan akan bernilai miliaran rupiah. Jadi, mari kita berpikir kedepan,” tandas Nana.
Dijelaskannya, warga Sukamukti khususnya, sangat mengandalkan aliran air yang bersumber dari Lembah Cilengkrang. Baik untuk keperluan pertanian, rumah tangga, keperluan air bersih sehari-sehari terutama sekali untuk keperluan air minum warga.
Namun, setelah dibukanya lokasi pariwisata Lembah Cilengkrang, air yang sangat diandalkan warganya tersebut sudah tercemari oleh limbah dari Lembah Cilengkrang. Hal ini tentu merugikan warga Sukamukti. ”Pokoknya kami minta BTNGC kembali meninjau pembuangan limbah Lembah Cilengkrang,” pinta dia, dengan suara lantang.
Ia berkeinginan, Lembah Cilengkrang tetap menjadi hutan seperti dulu. Jangan dijadikan wisata alam, apalagi sampai ditarif. Karena dengan kondisi itu, kawasan Lembah Cilengkrang akan tetap lestari. Sebaliknya dengan kondisi saat ini, kawasan bukan malah lestari tetapi rusak, apalagi dengan keberadaan bangunan-bangunan. Bahkan berakibat buruk terhadap pencemaran limbah kepada penduduknya, juga penduduk desa lain. Karena posisi Lembah Cilengkrang berada di atas.
Lebih dari itu, warga Sukamukti juga mengajukan komplain berat kepada BTNGC yang telah mengusir warga Sukamukti dari kawasan TNGC. Warga Sukamukti disuruh turun untuk tidak menggarap lahan TNGC tetapi BTNGC malah memanfaatkannya untuk komersil.
”Samasekali tidak ada solusi buat warga kami yang terusir itu. Waktu diusulkan, mereka bahkan bilang kalau ada warga menggarap lahan TNGC berarti maling. Mana ada maling dikasih hadiah,” beber dia, menirukan bahasa orang BTNGC.
Mendengar hal itu, karuan warganya hampir mengamuk jika tidak ditahan. Terlebih memang kontribusi buat desa-desa di sekitar kawasan TNGC juga tidak ada. Padahal, sejak BTNGC membuka wisata alam Lembah Cilengkrang, mereka menarik tarif masuk setiap wisatawan Rp4.000.

Sumber ; - http://radarcirebon.com/2011/01/19/warga-sukamukti-protes-btngc/

Lahan BTNGC di Padabeunghar Terbakar


Sedikitnya 20 hektare lahan kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) di Blok Gibug Desa Padabeunghar Kec. Pasawahan Kab. Kuningan hangus, menyusul terjadinya serangkaian kebakaran di daerah tersebut hingga empat kali. Terakhir, terjadi Kamis (27/9) sore hingga Jumat (28/9) dini hari. Namun, pelaku pembakaran berhasil diamankan petugas.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kebakaran terakhir yang menghanguskan lahan alang-alang dan sebagian kecil di bawah tegakan pohon pinus terjadi pada, Kamis (27/9) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Api diduga berawal dari lahan alang-alang yang selanjutnya merembet ke lahan yang ditanami pinus.

Munculnya kobaran api mengagetkan warga yang ada di sekitarnya sehingga dengan peralatan seadanya, mereka melakukan pemadaman bersama petugas terkait. “Beruntung, kebakaran tidak meluas berkat kesigapan para petugas dilapangan serta partisipasi masyarakat Desa Padabeunghar,” kata Kepala BTNGC, Ir. Muhtadin Nafari, didampingi Kasi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Linggarjati, Maman Surachman, S. Hut., di kantor BTNGC di Desa Manislor Kec. Jalaksana, belum lama ini.***

Cuaca panas yang menyengat ditambah medan terjal dan berbatu membuat petugas kesulitan memadamkan api.Kebakaran hutan terjadi pukul 12.10 WIB.”Kami mengetahui kebakaran dari warga Rajagaluh yang melintas di kawasan tersebut dan mengabarkan api sudah mencapai bukit sebelah selatan. Setelah mendapat informasi tersebut, warga yang baru selesai salat Jumat langsung bergotong-royong berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya,” ujar Kasi Trantib Kecamatan Pasawahan Utum Supriatna. Dia menduga titik api berasal dari tempat pembuangan sampah warga setempat. ”Kami menduga penyebab api berasal dari sampah yang dibuang warga.

Mungkin di antara sampah tersebut terdapat korek api gas,karena cuaca sangat panas menyebabkan korek gas meledak dan menimbulkan percikan api hingga terjadilah kebakaran,”jelas Ucu. Mengingat medan terjal dan berbatu, upaya pemadaman tidak bisa dengan menyemprotkan air dari mobil Dinas Pemadam Kebakaran, melainkan dengan cara memukul sumber api dengan dahan dan ranting pohon basah. ”Selain itu kami bersama masyarakat setempat dan petugas yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) berusaha memadamkan api menggunakan metode sekat bakar,”ujar Ucu.

Maman Surahman, Staf Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) mengaku belum mengetahui berapa luas areal hutan yang terbakar karena kobaran api hingga kemarin sore masih terus berkobar. Menurut dia,upaya pemadaman belum maksimal sebab sebagian besar petugas BTNGC masih mudik Lebaran dan belum masuk kantor. ”Namun masyarakat setempat dan petugas yang tergabung dalam MPA dan Pamswakarsa saat ini berupaya memadamkan api dan dalam waktu singkat api dapat segera dipadamkan,” kata Maman.

Untuk mempercepat pemadaman, satu unit kendaraan pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani areal kebakaran yang berada di dekat jalan desa dan mudah dijangkau. 

Sumber :- http://wartadesa2007.wordpress.com/2007/10/01/lahan-btngc-di-padabeunghar-terbakar/
- http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/424823/